Awalnya dia datang memintaku untuk mendampinginya menemaninya mendaki tebing yang tinggiiiiiii banget. Dengan senang hati aku bersedia menemani dan menjadi seseorang yang dapat mewarnai perjalanannya. Dia mendaki dengan cepat, aku mengikuti di sisinya. Terus memberinya kekuatan untuk terus maju tanpa kenal lelah. Sebisaku, sekuat tenaga mendorongnya ketika ia mulai ragu dan lelah. “Jangan menyerah, Jangan takut, aku disini untuk mendukungmu, dan menemani setiap langkahmu”. --
Ia kembali mendaki ke atas lebih cepat, aku tertatih mengikutinya yang mendaki lebih dulu meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya dengan sisa tenaga. Aku melihatnya
sedikit demi sedikit menjauh dari pandangan. Napasku terengah, aku meringis kesakitan melihat kaki dan tangan yang penuh luka. Aku terdiam di tengah tebing, tergantung mengatung. Aku menatap sendu ke atas melihat sosoknya yang semakin lama semakin jauh…, jauuh… dan menjauh, hingga bayangannya tidak terlihat lagi.
sedikit demi sedikit menjauh dari pandangan. Napasku terengah, aku meringis kesakitan melihat kaki dan tangan yang penuh luka. Aku terdiam di tengah tebing, tergantung mengatung. Aku menatap sendu ke atas melihat sosoknya yang semakin lama semakin jauh…, jauuh… dan menjauh, hingga bayangannya tidak terlihat lagi.
Tergantung mengatung dengan tubuh penuh luka tak berdaya.
Hujan datang membasahi tubuh yang penuh luka, perih…
Apa dia merasakan hal yang sama di atas sana ? apa dia baik-baik saja di atas sana seorang diri? Dengan langkah gontai aku menepis dan menelan perih yang menguliti luka, melanjutkan mendaki untuk menemaninya, memastikan keadaannya kalau dia baik-baik saja. --
Perlahan aku mulai melihat bayangan sosoknya, sayup aku memanggil. Tidak ada jawaban. Ia terus keatas mengejar puncak tanpa mempedulikan aku yang memanggil dengan lirih.
Sepertinya dia sudah tidak membutuhkan aku lagi, sudah tidak membutuhkan aku lagi…
Aku terdiam. Tanpa sadar tali yang sejak awal menopang tubuhku mulai rapuh, aku merasakan tubuhku melayang jatuh, jatuh kebawah. Aku berteriak dengan lirih memanggilnya, dia menoleh melihatku yang terjatuh, terjatuh begitu saja. Aku menatap kosong ke atas, melihatnya yang membiarkan aku jatuh, jatuh begitu dalam.
Aku menatap nanar harapan, aku tergeletak di bawah tebing, sendiri, mengingat semua yang telah terjadi membuat luka semakin perih, pedih sekali...
0 komentar:
Poskan Komentar